Pendidikan Network IndonesiaTeknologi & PendidikanTeknologi Pendidikan IndonesiaSains & TeknologiMajalah Teknologi IndonesiaBerita Pendidikan IndonesiaPenelitian Indonesia
 Home :: Halaman Utama
 Berita Perkembangan
 Menganai Kami
 Search Metodologi.Com
  
  
Search Metodologi Website
 
powered by FreeFind

  
 Search SSEP WebSite
  

Search SSEP Website
     
powered by FreeFind

  
 Search Innovation Site
  

Search Inovasi Website
     
powered by FreeFind

  
 Informasi Pembaharuan

Manajemen
Sekolah

Model
Penbaharuan

Sekolah
Contoh

Perkembangan
Fasilitas

Laboratorium
Bahasa

UpGrade
Lab Bahasa

Lab Bahasa /
Self-Access

Latihan
Teknisi

Perkembangan
Perpustakaan

Perawatan
Preventif

 100 Kunjungan Terakhir
  

  

Selamat Datang Di Pojok Anti Korupsi IndonesiaSelamat Datang Di Sekolah Ambruk Kita

Selamat Datang Di Pendidikan Network Indonesia

Vocational Education Or Applied General Education?
(Vocational Education Or Applied General Education?)

"Vocational education or vocational education and training (VET) prepares trainees for jobs that are based on manual or practical activities, traditionally non-academic, and totally related to a specific trade, occupation, or vocation. It is sometimes referred to as technical education as the trainee directly develops expertise in a particular group of techniques or technology.

Vocational education may be classified as teaching procedural knowledge. This can be contrasted with declarative knowledge, as used in education in a usually broader scientific field, which might concentrate on theory and abstract conceptual knowledge, characteristic of tertiary education. Vocational education can be at the secondary or post-secondary level and can interact with the apprenticeship system. Increasingly, vocational education can be recognised in terms of recognition of prior learning and partial academic credit towards tertiary education (e.g., at a university) as credit; however, it is rarely considered in its own form to fall under the traditional definition of higher education.

Up until the end of the twentieth century, vocational education focused on specific trades such as, for example, those of automobile mechanic or welder, and it was therefore associated with the activities of lower social classes. As a consequence, it carries some social stigma. Vocational education is related to the age-old apprenticeship system of learning. Historical educational polarizations about the different natures and hierarchical values of general education vs. vocational vs. liberal education in the United states are reminiscent of the Dewey / Snedden debates in the first quarter of the 20th century.

The boundaries between vocational education and tertiary education are becoming more blurred. A number of public vocational training providers such as TAFE NSW, NMIT, BHI and WAI are now offering specialised Bachelor degrees in specific areas not being adequately provided by Universities. Such Applied Courses include in the areas of Design, Equine studies, Winemaking and viticulture, aquaculture, Information Technology, Music, Illustration, Culinary Management and many more. This trend is expected to continue and expand allowing more students, particularly low-socioeconomic and remote students, to access higher education". Source: Wiki: Vocational Education

Is Vocational Education Instrumentalist Education? - "Instrumental Education Describes learning which is undertaken not for its own sake but for some other purpose. For example, all vocational education is instrumental in that its purpose is to prepare the learner for a specific line of work and to improve their chances of employment". Ref: Instrumental - Developmental


Do People Study Medicine, Law or Science "for its own sake"?
Are they not aspiring to work in those fields?


Insn't all Formal Education Vocational Education? Why do students insist upon the issuing certificates? For Wall Decorations?
Isn't all Education Instrumental - Except For Some Non-Formal Education Programs?
(Increasingly more people are now taking Non-Formal Education Programs for Business or Vocational Purposes also.)

However, there is Good (Healthy) Instrumentalism and Not-So-Good (Unhealthy) Instrumentalism...
And, any Instrumentalism that is driven by Political Objectives alone is certainly very Questionable Instrumentalism
.

In Indonesia prior to 1994 we had public schools (SMU) that delivered both "General Education" and "Vocational Education" subjects. This system was free of any feelings of descrimination or stigma, and all students could participate in an array of vocational subjects. However, in 1994 this all changed with the introduction of 2 new curriculums for a dual Senior Middle Education system (years 10-12) whereby we have two new categories of schools, Senior Middle Education Schools (SMA), and Senior Middle Education Vocational Schools (SMK).

Now (since 1994) we have a situation where:

  • 70% of all graduates nationally from SMAs annually try to find work without any specific vocational skills training. And...

  • Graduates from SMKs are receiving preparation for the workforce. However, they bear the stigma of having graduated from an "education for workers".
If we are going to address the myriad of challenges facing this country we are going to need generations of innovative individuals who posess both creative and anylitical skills, and also have a sound understanding from applied (practical and contextual-based) studies.

This is also a major issue for our universities because "60 Percent Of Higher Education Graduates Are Unemployed"... And it appears that most of the 40% of graduates that work, work outside their field of study... We need to ask, What Is The Purpose Of Higher Education In Indonesia? Ref: http://Menganggur.Com

In our vocational education schools (SMK) we, as in our general education schools (SMA), need to focus upon methodologies that "Develop The Person as a Creative Individual" so that we can maximize the potential of our vast human resources.



(Metodologi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK))

Guru Masih Terlalu Dominan di Kelas

"JAKARTA, KOMPAS.com - Proses belajar-mengajar di sekolah kerap membosankan dan tidak menyenangkan karena guru yang terlalu dominan di ruang kelas.

"Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa." -- Fasli Jalal

"Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa," kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam diskusi panel Pendidikan Profesi Guru di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Sabtu (4/12/2010)"

Apa masalah utama dalam pelaksanaan pendidikan kita (selain korupsi), Yaitu 'Siswa tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan pendapat yang berbeda sehingga mematikan kreativitas siswa'. - Apakah kita mungkin dapat berharap anak-anak kita akan Aktif (maupun Pro-Aktif), Kreatif, dan Mampu Berkontribusi Kepada Perkembangan Indonesia dengan Pembelajaran-Pasif?

Tujuan Situs Metodologi.Com

Kami sudah menyediakan banyak contoh dan informasi untuk dibaca maupun di-download tetapi supaya lebih banyak guru dapat bertahap-tahap mengarah ke metodologi pembelajaran yang lebih bermutu maupun lebih terfokus kepada perkembangan kemampuan, kreativitas, inovasi, dan kemandirian pelajar-pelajar kita (manusia), kami ingin menjelaskan mengenai langkah-langkah yang dapat di-integrasikan dalam metodologi yang sekarang tanpa menggangu proses pembelajaran dan perencanaan yang sudah ada.

Kunci-nya untuk mencapaikan mutu pendidikan yang Tingkat Dunia adalah Pembelajaran-Aktif (Student Centred) dan Kontekstual.

Langkah Pertama: Lebih mengarahkan pembelajaran ke pelajar-pelajar sendiri. Daripada menyampaikan informasi saja (suap-suapkan), lebih sering membagi tugas-nya ke pelajar-pelajar sendiri untuk membahas, meneliti, dan mencari informasi atau solusi-nya sendiri (problem solving).



Langkah Kedua: Makin lama makin menggunakan lingungan sebagai sumber pembelajaran yang kontekstual. Mengarahkan pembelajaran dan perencanaan untuk kegiatan pembelajaran ke pelajar-pelajar sendiri. Lebih mengarah ke kemandirian dalam pembelajaran.



Langkah Ketiga: Makin lama makin menggunakan peraga yang ada, atau dibuat oleh guru, atau dibuat oleh pelajar-pelajar sendiri. Peraga maupun teknologi sederhana adalah sangat bermanfaat untuk menstimulasikan "Discovery Learning". Peraga sederhana dapat menstimulasikan Imaginasi, Diskusi, Keterampilan Negosiasi, dan Kreativitas.



Langkah Keempat: Makin menghidupkan suasana kondusif belajar sambil meningkatkan penghargaian hasil karya pelajar. "Zaman Dinding Bersih" sudah lama ketinggalan zaman, sama dengan "Zaman Pelajar-Pelajar Duduk Manis". Sekarang kita menggunakan dinding dan langit-langit untuk memerkan hasil karya pelajar. Selain meningkatkan suasanya belajar ini juga menunjukkan kehormatan kepada hasil karya pelajar-pelajar kita. "Nothing Succeeds Like Success" dan kalau pelajar-pelajar kita merasa bahwa hasil karya mereka dihargai dapat sangat meningkatkan perasaan bahwa mereka bersukses. Sangat memotivasikan.....



Langkah Kelima: Makin lama makin meningkatkan pengetahuan dan pengertian mengenai Proses Pembelajaran-Aktif. Di atas ada dua File PDF yang anda dapat menggunakan untuk meningkatkan pengertian kegiatan pembelajaran-aktif dan mendalami pengetahuan mengnai proses Pembelajaran-Aktif dan Kontekstual.

Tetapi rekomendasi kami adalah anda mulai mengintegrasikan langkah 1 sampai 4 ke dalam pembelajaran anda sebelum membaca dokumen-dokumen di atas supaya dokumen-dokumen itu adalah lebih berarti pada waktu membaca, dan anda dapat "reflect upon" pengalaman sendiri sambil membaca.


Metodologi :: Model Pembaharuan
Model Pembaharuan :: Case Studies

SMU Tigaraksa : "Banyak di antara para guru yang masih sangat muda dan berasal dari Jawa Tengah. Mereka percaya bahwa pendidikan yang diberikan oleh IKIP Yogyakarta merupakan program yang sangat baik menyiapkan mereka secara profesional. Kurangnya lahan pekerjaan di Jawa Tengah telah membuat sebagian dari mereka untuk memilih bekerja di Jawa Barat sebagai tempat pilihan mereka untuk mengajar. Jiwa muda serta persepsi idealis mereka telah membawa kemampuan sekolah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang berubah. Informasi Lengkap

SMU Negeri 2 Wonosari : "Sikap guru telah meningkat secara jelas dan kehadiran mereka juga meningkat. Mereka lebih mendukung siswa dan antusias sekali dalam mengajar. Melalui dorongan kepala sekolah, para guru lebih siap melaksanakan berbagai metode pengajaran yang kreatif. Ketika hendak melakukan pendekatan baru di dalam kelas, para guru bertanggung jawab untuk membuat usaha yang memadai agar dapat melakukan evaluasi terhadap keefektifan mereka. Pendekatan yang dianggap kurang efektif tidak dilanjutkan, sedangkan pendekatan yang efektif didukung dan dibantu oleh kepala sekolah. Hal ini membuahkan hasil berupa sikap yang lebih profesional bagi para guru dan telah memberikan sumbangan yang berarti bagi peningkatan pengajaran dalam beberapa mata pelajaran. Guru sangat senang melakukan berbagai uji-coba serta menguji teori-teori baru dan senang berada di sekolah hingga sore hari. Sekarang ini rasa menyatu dengan masyarakat telah ada pada para guru. Guru-guru ingin untuk mencapai gelar Master (S2) dibantu oleh sekolah." Informasi Lengkap

SMU Negeri 23 Bandung : "Para guru biasanya merasa tidak pasti dan acuh tak acuh mengenai fasilitas yang tersedia dan terbatasnya jumlah staf. Sebagai guru mereka merasa secara profesional rendah sampai 3 tahun yang lalu. Bagaimanapun, kepala sekolah yang sekarang telah memberi mereka visi untuk pengembangan sekolah. Sebagai hasilnya, mereka menjadi lebih semangat untuk mengajar. Mereka sekarang lebih disiplin dan mendukung kegiatan pembelajaran siswa. Sekarang para siswa merasa bahwa para guru, khususnya para guru yang berusia muda1 lebih mempedulikan mereka, dibandingkan sebelumnya. Guru-guru biasanya menangani 45 siswa dalam satu kelas pagi dan sore, tetapi saat ini guru mengajar 40 siswa dalam satu kelas. Mereka memiliki hubungan lebih erat dengan para orangtua siswa mengenai masalah-masalah siswa dan sekolah. Hubungan antara guru juga menjadi lebih aktif, dan mereka memperkuat satu dengan lainnya untuk berinisiatif membuat gagasan-gagasan baru." Informasi Lengkap

SMU Negeri 1 Mojoagung : "Guru kelihatannya lebih termotivasi untuk mengajar walaupun mereka lebih menitikberatkan pada mata pelajaran yang ada dalam EBTANAS, dan cenderung kurang terhadap mata pelajaran non-EBTANAS. Guru juga meningkatkan hubungannya dengan para orang tua untuk membicarakan secara langsung mengenai kemajuan belajar para siswa. Mereka, terutama guru wanita, tidak saja menerima gaji tambahan, tetapi mereka juga merasa terhormat dengan menerima tanggung-jawab yang diberikan kepada mereka. Komunikasi dengan para guru juga meningkat dari pertemuan rutin yang diadakan sekali pada setiap cawu. Bagaimanapun, pertemuan informal nampaknya lebih menguntungkan bagi para guru." Informasi Lengkap


Sertifikat Profisiensi Dari Pendidikan Network Indonesia Kami ingin memberikan Sertifikat kepada guru-guru yang dapat mendemonstrasikan bahwa mereka sudah paham dan dapat melaksanakan pembelajaran-aktif dalam kelas mereka. Rencananya, sertifikat ini akan disediakan gratis untuk guru-guru tingkat SD sampai SMA dan SMK (Kami sedang mencari sponsor).

Saya, di bawah payung Pendidikan Network Indonesia sudah membuat dan mengurus jaringan yang sudah bertumbuh terus selama 12 tahun (Sekarang kira-kira 150 situs, kebanyakan Pendidikan dan Teknologi Pendidikan). Situs-situs ini sudah dikembangkan oleh saya sendiri dan dana-nya juga seratus persen dari uang sendiri dan penghasilan saya sendiri (tanpa sponsor). Tetapi, supaya saya dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan di lapangan, seperti yang di atas, saya jelas akan membutuh dukungan dari sponsor. Kalua anda merasa bahwa lembaga anda atau Program AID anda adalah ingin mendukung program ini silakan kontak saya di Sponsor@Metodologi.Com atau Telp: +62818 1949 00 Semua kesempatan dari sponsor-sponsor akan diberikan konsiderasi secara serius.




(Selain Memberantaskan Korupsi)


  • Memperbaiki semua sekolah yang rusak dan ambruk supaya Standar Nasional yang lengkap dengan sarana/prasarana supaya aman, nyaman, dan kondusif untuk "semua pelajar" - "Puluhan ribu sekolah dalam keadaan rusak atau ambruk termasuk 70% sekolah di DKI Jakarta - Di Jakarta Saja, 179 Sekolah Tidak Layak Pakai! - Hampir 80% Gedung Sekolah di Pesawaran Rusak, dll","Jumlah ruang kelas (SD dan SMP) rusak berat juga meningkat, dari 640,660 ruang kelas (2000-2004 meningkat 15,5 persen menjadi 739,741 (2004-2008)." (ICW) - Kelihatannya makin lama makin banyak sekolah yang rusak!
    Ref: http://Ambruk.Com

  • Mengimplementasikan PAKEM (Pembelajaran Aktif dan Kontekstual) di semua sekolah supaya standar pembelajaran kita sesuai dan kompetitif dengan negara lain. Kapan kita akan menghadapi isu-isu yang terbukti meningkatkan mutu pendidikan? Pendidikan Yang Terbaik Masih Adalah: Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang, dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM. ("Mampu" termasuk Kreatif)
    Ref: http://pendidikan.net/pakem.html

  • Menggunakan "Appropriate Technology" yang sudah ada di semua sekolah, yang terbaik, terjangkau, dan sangat meningkatkan kreativitas siswa-siswi maupun kreativitas guru (seperti di negara maju). Dengan rasio: "Sekarang Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa". Jelas TIK (ICT) bukan solusinya, kan?
    http://TeknologiPendidikan.Com

  • Meningkatkan profesionalisme dan bertanggunjawaban guru untuk meningkatkan ilmu dan kemampuan mengajar sendiri - seperti guru profesional di negara lain. Guru adalah pelaksana pendidikan (dan paling penting) jadi kesejahteraan juga harus sesuai supaya tidak perlu "moonlighting" di tempat lain dan dapat fokus kepada tugasnya.

  • Meningkatkan Lapangan Kerja - Oleh lulusan yang Aktif (maupun Pro-Aktif), Kreatif, dan Mampu Berkontribusi Kepada Perkembangan Industri. Ini adalah isu yang sangat penting di Perguruan Tinggi juga di mana "60 Persen Lulusan PT Menganggur" dan dari 40% yang mendapat pekerjaan, berapa % mendapat pekerjaan yang memuaskan?
    http://Menganggur.Com

    Ref: http://Pendidikan.Net - 5 langkah
Melaksanakan "Metodologi Pembelajaran-Aktif dan Kontekstual" yang Standar Dunia (jangan sampai anak-anak kita ketinggalan zamam terus - berbasis-hafalan). "Mengaktifkan Siswa Dalam Belajar :: Pembelajaran Aktif" dan "Learning and the Changing Needs of The 21st Century"

Phillip Rekdale
Mengirim Saran Anda.

Maaf, kami sedang menulis konten untuk bagian SMK.

Kami Sedang (dalam proses) Melulis Isi-nya Untuk Sektor Pendidikan Masing-masing.

PAUDSDSMPSMASMKPT

Pembelajaran Berbasis-Pendidikan
Bukan Berbasis-Ilusi


Apakah ada staf di Sekolah Tingkat SMK yang ingin berkontribusi?
Klik Di Sini!


Kembali ke Metodologi.Com